Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengaku bahwa hatinya telah
terpanggil untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta. Bahkan ia rela
meninggalkan orangtua dan kedua adiknya di Sri Inderapura, Pekanbaru.
Saat menjejakkan kaki ke ibu kota, ia memang tidak langsung memutuskan
untuk menjadi seorang dokter. Sebab dirinya lebih tertarik untuk
melanjutkan pendidikan di bidang bisnis.
"Sebelum aku ambil dokter gigi aku ambil bisnis di Inti College
Indonesia. Sistem kuliah di sana memang cuma enam bulan dan habis itu
dikirim ke Australia. Tapi di saat aku kuliah, aku berpikir kalau aku
ambil bisnis otomatis aku akan sibuk banget, tapi kalau aku ambil
kedokteran ke depannya aku bisa praktik di rumah dan jauh lebih simple kan buat perempuan," katanya.
Tidak tinggal diam, ia pun langsung merealisasikan pikirannya.
Beruntung saat itu Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas
Trisakti satu-satunya kampus yang masih membuka pendaftaran untuk
mahasiswa baru.
"Akhirnya aku coba daftar dan itu pendaftaran terakhir,
eh (enggak) tahunya aku lulus, ya aku langsung pindah. Tapi waktu itu aku ikut tes dulu dan enggak bilang mama. Pas
keterima baru aku bilang sama mama," jawabnya sambil tertawa.
Trik hadapi pasien anak-anak
Tak banyak yang menarik perhatian Nissa saat menjalani pendidikan
Strata 1 (S1). Seperti mahasiswa lain pada umumnya, ia menghabiskan
waktu untuk belajar dan begadang menghafalkan materi-materi kuliah. Tapi
saat menjalani ko-as di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Trisakti, ia mulai
menemukan hal-hal yang menarik.
"Saat itu aku
ngadepin pasien yang macam-macam tingkahnya
deh. Banyak
banget pengalaman seru pas ko-as. Yang paling seru itu pas aku
ngadepin anak-anak kecil ya, kalau pasien dewasa
kan bisa diatur. Kalau anak-anak itu ya ampun..." katanya dengan gemas.
Sebelum mencabut gigi, biasanya Nissa akan memberikan suntik
infiltrasi agar pasien tidak merasakan sakit saat gigi dicabut. Suntikan
akan membuat gigi terasa kebal dan kenyal. "Saya suka kasih tau ke
anak-anak, '
Nanti setelah terasa kebal rasanya kayak bakso jangan digigit ya jangan dimakan ya'. Tapi ya namanya anak-anak, semakin dilarang semakin mereka
ngelakuin," tuturnya.
Bagi anak-anak, pergi ke dokter gigi adalah hal yang paling
menakutkan. Bahkan Nissa sering menghadapi anak-anak yang baru buka
mulut saja sudah menangis super kencang. Alhasil Nissa dan teman-teman
ko-as lainnya ditegur oleh dosen.
Tapi wanita berdarah Minang ini punya siasat untuk mencegah tangisan si anak, "Sebelumnya aku
contohin dulu
ke mereka dengan model, jadi dia tahu daerah mana saja yang akan
disentuh. Tapi kalau si anak mulai rewel dan capek, biasanya kita
udahin aja periksanya."
Nissa membutuhkan sekitar satu hingga dua jam untuk mengerjakan satu
pasien karena Nissa harus benar-benar teliti memeriksa kondisi gigi dan
mulut secara keseluruhan. Ia menjelaskan kalau pemeriksaan itu tidak
hanya di sisi yang sakit saja, tetapi semua bagian, mulai dari sendi,
mukosa mulut, lidah, langit-langit mulut, dan dasar mulut. Hal itu
dilakukannya untuk mendeteksi dini apakah pasien memiliki penyakit lain
selain yang ada di mulutnya.
Bukan hanya mengusai bidang kedokteran gigi, ia juga melanjutkan
pendidikan S2 bidang Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) di tengah
jadwal ko-asnya saat ini. Di usia yang tergolong sangat muda, tak banyak
waktu untuk Nissa berleha-leha seperti anak sebayanya. Ia memilih untuk
belajar dan bekerja demi membahagiakan ibu dan sang ayah yang telah
tiada.
Pernah jadi korban bully
Untuk menjadi dokter muda seperti saat ini banyak rintangan bahkan
trauma dahsyat juga telah dilalui Nissa. Saat duduk di bangku SMP dulu
ia mengaku pernah menjadi korban
bully oleh kakak kelasnya. Saat itu dia sama sekali tak mengerti apa arti senioritas.
"Dulu aku
tuh enggak
ngerti aturan junior harus menyapa senior, aku enggak pernah
ngerti yang namanya senioritas karena
kan
pas SD enggak ada yg namanya senioritas. Nah, pas aku masuk SMP dan
kebetulan SMP favorit itu ada aturan wajib kalau junior harus hormat dan
selalu menyapa senior," ungkap mantan mayoret ini.
Sering kali Nissa berjalan dan tidak menyapa kakak kelasnya, setiap
jalan di lorong sekolah ia selalu menunduk dan tidak pernah mengabaikan
seniornya. Terlalu sering berlaku seperti itu, kakak kelasnya pun geram
dan melabrak dirinya yang tidak bersalah.
"Aku
diomel-omelin, diteriak-teriakin. Enggak secara fisik
sih cuma omongan
doang, tapi aku enggak
ngerti kenapa mereka begitu. Sampai detik ini aku benci
banget yang namanya
bullying karena menurut aku itu merusak mental," kata wanita berdarah Melayu ini.
Nissa satu-satunya anak yang saat itu mendapatkan perlakukan tidak
pantas. Selama hampir dua tahun ia hidup di lingkungan yang tidak sehat
dan kejadian tersebut menyebabkan trauma dan takut untuk bergaul.
Sampai-sampai perubahan sikapnya disadari oleh sang ibu.
"Aku sampe ke psikolog waktu itu, karena mama aku
ngeliat sikapku berubah jadi pendiam. Untuk
recovery-nya lumayan lama, itu kira-kira sampai kelas 3 SMP aku baru bisa lumayan," katanya.
Meski masa
bully telah selesai, tetapi bagi Nissa traumanya
benar-benar masih melekat. Terlebih saat masuk SMA, Nissa masuk ke
lingkungan baru dan sama sekali tidak ada yang dikenal olehnya. Baginya
lingkungan baru adalah sebuah ketakutan dan butuh waktu lama untuk
beradaptasi.
"Saat itu aku
mikir, aku harus
ngadepin dunia aku harus benar-benar
ngelupain semuanya," tutur Nissa calon dokter yang hobi jogging ini.
Berhati lembut bak malaikat
Selain berkeinginan miliki klinik dokter gigi sendiri, dokter cantik
ini juga punya cita-cita mulia bak malaikat. Yaitu membangun sebuah
panti asuhan dan panti jompo. Pasalnya, ayah Nissa telah lebih dulu
berpulang sejak perempuan ini duduk di bangku 4 SD.
"Saya ditinggal ayah saya ketika saya masih kecil sekali dan saya
suka merasa sedih kalau melihat keluarga yang komplit, ada ayahnya ada
ibunya, saya
ngerasa ingin seperti itu. Karena itu saya ingin
sekali membangun panti asuhan karena saya pengin jadi keluarga untuk
mereka yang seperti saya," ujarnya sambil merenung.
Bukan hanya panti asuhan, bahkan Nissa bercita-cita membangun panti
jompo, "Ketika melihat ada orang tua yang terlantar atau melihat berita
ada anak durhaka kepada orangtuanya, di situ batin saya sangat-sangat
tidak terima. Pokoknya sebisa saya akan memberikan kebahagiaan kepada
mereka,
makanya saya niat
banget pengin buat dua itu."
Bukan sekedar di ucapan saja, ternyata di sela-sela kesibukannya
sehari-hari, Nissa sudah sering mengunjungi beberapa panti asuhan hingga
kolong jembatan yang ada di sekitar kos-kosannya di daerah Grogol. Tiap
kali mengunjungi tempat tersebut, ia selalu membawa makanan, buku-buku
bekas, atau sekadar bermain dan menemani belajar atau memberi motivasi
anak-anak di sana.
"Waktu itu saya pernah ke Banjarwangi untuk bakti sosial pemeriksaan
gigi dan mulut gratis dan penyuluhan untuk anak dan ibu-ibu. Tapi
sejujurnya saya lebih sering ke kolong jembatan, kalau tempatnya seram
kadang saya ajak teman dua atau tiga orang," ujarnya.
Perasaan sedih dan miris selalu melintas di benak wanita berhati
mulia ini. Tiap kali berkunjung ke daerah terpencil atau tempat yang
tidak layak untuk ditinggali, ia selalu ingin membantu dan mendirikan
lapangan pekerjaan bagi orang-orang tak mampu yang ditemuinya.
Hal tersebut juga menjadi motivasi tersendiri bagi dirinya. Ia
berpikir bahwa keberadaan dirinya di dunia tentu harus berguna bagi diri
sendiri, keluarga, dan orang di sekitarnya.
"Saya selalu merasa bersyukur dan saat saya bersyukur saya merasa
punya tujuan hidup, karena hidup bukan hanya sekadar hidup, bekerja,
makan, nikah, punya anak, terus meninggal,
kan? Apalagi saya
merantau di sini tidak punya siapa-siapa, jadi semakin ke sini saya jadi
tahu apa yang harus saya lakukan," ucapnya sambil menatap ke jendela.
Motivasi hidup yang baik juga selalu ditularkan oleh Nissa ke dua
adik laki-laki yang masih duduk di bangku 1 SMP dan 1 SMA. Meski tidak
selalu bertemu dengan saudara-saudara kandungnya, tetapi ia tidak pernah
lupa untuk menuntun kedua adiknya agar tumbuh menjadi anak yang sukses
dan bisa membanggakan keluarga.
"Aku selalu bilang sama adik aku kalau mereka harus jadi orang sukses dan jadi orang beriman supaya bisa
bahagiain papa yang udah meninggal dan mami. Aku bilang ke mereka,
'Cuma
mami satu-satunya yang kita punya dan mami yang masih hidup, jadi siapa
lagi sih yang bisa kita banggakan kalau bukan mami?"
tutup calon dokter cantik ini.